logo BDL
pemulung

Luar biasa! Itulah perjuangan seorang pemulung yang berhasil meraih gelar sarjana berkat profesinya yang sudah dilakoninya dari masa kecil.

Wahyudin adalah pemuda berusia 21 tahun yang akan diwisuda sebagai sarjana Ekonomi di bulan Desember nanti. Sekilas, dia mungkin terlihat sebagai mahasiswa biasa yang menuntut ilmu di Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka).

Dengan perawakan tinggi dan bersih, orang pasti terkejut jika mengetahui profesi Wahyudin sebagai pemulung. Bahkan, profesi ini telah digelutinya sejak kelas 4 SD.

Hal lain yang mengejutkan bahwa dia memutuskan jalan hidup sebagai pemulung untuk membiayai sekolahnya sendiri. Dari pengakuannya, tidak mungkin melanjutkan ke SMP akibat kondisi ekonomi keluarganya. Apalagi, ia merasa cemas jika dimarahi oleh orang tuanya akibat keinginan kerasnya untuk bersekolah.

Tentang Kami

Bandung Digital Learning adalah komunitas belajar di kota Bandung yang sangat perduli dengan pendidikan di Indonesia. Pendidikan adalah masa depan bangsa. Jika pendidikan tidak diurus dengan baik, maka kita sedang merencanakan masa depan anak bangsa yang suram, kalah bersaing dengan bangsa lain. Tentunya, hal itu tidak kita inginkan.

Suatu bangsa yang hebat, bukan karena sumber alamnya berlimpah, bukan karena wakil rakyatnya hebat, bukan karena militernya hebat, bukan karena presidennya....bukaaan...Tetapi karena rakyatnya terdidik dengan baik sehingga SDM nya unggul. Untuk itulah, kami mengajak segenap komponen bangsa untuk bersama-sama memajukan pendidikan di negeri ini. Sekarang ini jamannya digital, pembelajaran kami lakukan melalui media digital, supaya dapat diakses dan dimanfaatkan oleh para pelajar dan mahasiswa di seluruh Indonesia, sekaligus membantu pemerintah untuk pemerataan pendidikan.

Pendidikan tidak hanya menitik beratkan pada pemahaman materi pembelajaran, tetapi juga pada pembinaan karakter. Jaman dahulu, ketika mengerjakan soal-soal matematik, selalu diawali dengan "diketahui:"...bla,bla,bla...kemudian "ditanyakan:"...bla,bla,bla.."jawab:"...Kelihatannya sepele, tetapi ini mendidik siswa untuk memahami pokok permasalahan, barulah bertindak, barulah bicara. Inilah contoh pendidikan karakter, supaya bangsa ini tidak mudah dihasut, tidak asal ngomong, tampa tahu permasalahannya. Sayangnya..., hal ini sudah tidak dilakukan lagi....sehingga mudah sekali para pelajar dihasut tawuran, bertindak tampa berpikir. Hmmm....suatu kemunduran...

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk urutan ke-4 terbanyak dunia, namun belum menjadi bangsa yang paling disegani urutan ke-4 dunia. Ketaatan terhadap Hukum dan Peraturan masih rendah. Masih seenaknya. "Suka-suka gue..." dan "kumaha aing.." itulah slogan yang sering dilontarkan bila ditegur.

Kedisiplinan bangsa ini masih memprihatinkan. Diantara negara ASEAN, bangsa Indosesia dinilai lebih rendah dibanding Vietnam, bahkan Kamboja yang baru selesai perang saudara. Menyedihkan...Karena itu, ayo! kita berjuang untuk kemajuan pembinaan dan pendidikan di negeri kita tercinta ini.

pemulung kanan

Sampai usia remaja, Wahyudin tidak pernah paham arti dari profesi sebagai pemulung. Satu hal yang dia pikirkan ialah bagaimana mengumpulkan pendapatan untuk digunakan sebagai tabungan bersekolah. Setelah benar-benar menyadari persepsi masyarakat mengenai pemulung, ia pun seakan tak peduli dan tetap melanjutkan aktivitasnya.

Selama pengalamannya sebagai pemulung, ada banyak ejekan dan tudingan akibat profesinya. Pernah pada satu kesempatan ia merasa takut karena pemulung dianggap sebagai maling. Sebagai anak kecil, hal itu sempat menimbulkan kecemasan. Namun berkat penjelasan tetangganya yang pemulung, Wahyu sadar bahwa mereka hanya mengambil sampah dan bukan barang-barang yang masih dipakai.

Salah satu pengalaman yang membekas di ingatannya ialah ketika dia benar-benar gemetaran akibat kelaparan. Rasa lapar pun memaksanya untuk mencari sisa-sisa makanan di tumpukan sampah