LOGO-BDL
Luar biasa, semangat siswa SD dari desa Sanghiang Tanjung untuk menimba ilmu ke sekolah. Letak sekolah yang berada di sebrang desa dan dipisahkan oleh sungai Ciberang, memaksa mereka harus melewati jembatan gantung yang sudah rusak. Bahkan situs ternama asal Inggris, Daily Mail. membandingkan perjuangan siswa desa Sanghiang Tanjung dengan aksi berbahaya film Indiana Jones. Setelah melihat kegigihan mereka yang sangat kuat, apakah kita yang kondisinya jauh lebih baik dari mereka masih bisa untuk malas dan bolos sekolah? Mari kita syukuri nikmat yang telah diberikan kepada kita dengan memanfaatkannya dengan sebaik baiknya sebelum kenikmatan tersebut hilang.

RUANG LINGKUP PEMBELAJARAN

Bandung Digital Learning melakukan terobosan dalam pembelajaran, diantaranya adalah memberikan dorongan dan motivasi kepada para siswa untuk berani bermimpi dan berusaha meraih mimpinya. Lingkup pembelajaran di mulai dari 9 SMP sampai dengan Perguruan Tinggi. Namun, untuk sementara ini masih sebatas 9 SMP dan 12 SMA saja. Itupun sebatas materi yang di UN kan saja.

Pemberian Motivasi dilakukan dengan menceritakan kisah perjuangan orang-orang sukses, sedangkan metode transformasi materi pelajaran dilakukan melalui video animasi, disertai narasi penjelasan. Akan banyak diberikan contoh-contoh soal dari soal paling sederhana sampai level olimpiade.

Seperti pepatah china; " Jika ingin panen tahunan, tanamlah jagung. Jika ingin panen sepuluh tahunan, tanamlah pohon, namun jika ingin panen seumur hidup, didik dan latihlah manusianya"

foto

Indonesia memang sudah merdeka, namun masalah pendidikan masih belum tertangani dengan baik. Karena itu, kita harus bekerja lebih keras dan lebih baik lagi.

Menurut data UNESCO, kawasan Asean merupakan kawasan paling rendah minat bacanya di muka bumi. Dan Indonesia, tercatat sebagai negara dengan minat baca buku terendah di Asean, dengan indeks minat baca baru mencapai 0,001 (2010). Itu artinya, diantara 1000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang benar-benar berminat baca buku. Bandingkan dengan Singapura yang memiliki indeks 0,45. Atau dalam 1000 penduduk, ada 450 orang dengan minat baca tinggi. Pada saat ini, masyarakat Indonesia masih berkutat dengan masalah sandang dan pangan, juga masih banyak yang belum memiliki rumah. Membeli buku dan membaca belum menjadi prioritas. Sementara, untuk masyarakat yang sudah mampu, membeli barang-barang komsumtif lebih dianggap penting dibanding membeli buku.